Cara Bangun Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Konflik

Seperti yang dapat Anda pahami bahwa beberapa tahun terakhir, kondisi ekonomi Indonesia dan global terus dilanda ketidakpastian. Sebut saja pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, inflasi global dan yang terbaru adalah kemunculan konflik Timur Tengah.

Indonesia merupakan negara yang masih bergantung pada komoditas ekspor dan impor bahan baku gejolak konflik global seperti ini dapat berdampak buruk bagi kondisi ekonomi domestik.

Oleh sebab itu, penting untuk membangun resiliensi ekonomi di tengah gejolak konflik dunia. Bagaimana caranya? Simak pembahasan artikel di bawah ini!

Di Tengah Konflik Global, Begini Cara Membangun Resiliensi Ekonomi Indonesia

Membangun resiliensi ekonomi Indonesia penting di tengah memanasnya konflik global. Tujuannya agar perekonomian dalam negeri tetap stabil. Berikut caranya!

Meski kondisi ekonomi global sedang terguncang karena adanya konflik antar negara, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan ekonomi. Hal tersebut dikenal dengan istilah resiliensi ekonomi.

Ada beberapa cara efektif untuk meningkatkan hal tersebut. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Peningkatan Sektor UMKM dan Konsumsi Domestik

Cara untuk meningkatkan resiliensi ekonomi Indonesia di tengah konflik global adalah peningkatan sektor UMKM dan konsumsi domestik. Kedua aspek tersebut dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Pemerintah harus menggalakkan sektor UMKM agar daya beli masyarakat tetap kuat. Jika hal ini berhasil, maka fluktuasi harga komoditas masih tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

2. Strategi Kebijakan Fiskal

Resiliensi ekonomi Indonesia sangat tergantung pada strategi kebijakan fiskal pemerintah yang tepat. Berbagai kebijakan yang telah diadopsi oleh pemerintah bertujuan untuk mengelola inflasi agar terkendali.

Beberapa contoh kebijakan fiskal yang dapat pemerintah adopsi untuk meredam inflasi adalah pengurangan belanja pemerintah dan meningkatkan tarif pajak demi mengurangi konsumsi berlebihan.

3. Diversifikasi Prospek Mitra Ekspor

Kondisi ekonomi Indonesia dapat lebih stabil dan resilient jika ada strategi diversifikasi prospek mitra ekspor. Sehingga, meskipun harga komoditas global mengalami tekanan, neraca perdagangan Indonesia tetap mengalami kenaikan.

Indonesia dapat melakukan diversifikasi ekspor ke pasar nontradisional. Misal, peningkatan ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi.

4. Mandiri Pangan & Infrastruktur

Salah satu aspek yang dapat terancam saat konflik global berlangsung adalah ketahanan pangan yang menurun. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah Indonesia untuk dapat mandiri dalam aspek pangan dan infrastruktur.

Jika kedua aspek tersebut terwujud, maka kondisi ekonomi Indonesia dapat lebih stabil, produktif dan pada akhirnya mencapai kemandirian.

5. Digitalisasi Ekonomi

Langkah strategis yang dapat meningkatkan resiliensi kondisi ekonomi dalam negeri adalah digitalisasi ekonomi. Hal ini meliput peningkatan efisiensi transaksi dan perluasan pasar UMKM.

Tujuannya agar kesiapan talenta dan infrastruktur agar lebih siap menghadapi tekanan ekonomi global. Selain itu, adanya digitalisasi ekonomi dapat mendukung pertumbuhan industri digital yang lebih tinggi.

6. Reformasi Struktural

Reformasi struktural di tengah konflik global menjadi cara efisien untuk meningkatkan resiliensi ekonomi Indonesia. Hal tersebut meliput hilirisasi industri, diversifikasi mitra dagang dan deregulasi.

Semua aspek tersebut bertujuan agar Indonesia mampu menghadapi perang tarif global dan pastinya untuk menjaga stabilitas APBN.

Contoh paling mudah dipahami pada aspek reformasi struktural demi resiliensi ekonomi domestik adalah kebijakan pemerintah untuk memberikan kemudahan berusaha penduduk dalam negeri.

Sehingga dapat Anda pahami bahwa ketegangan geopolitik global pasti berdampak signifikan pada kondisi ekonomi Indonesia. Agar kondisi perekonomian domestik tidak terguncang dan akhirnya kolaps, pemerintah harus meningkatkan resiliensi ekonomi.

Penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, diversifikasi pasar serta pengurangan belanja atau ketergantungan ekspor dapat menjadi cara efisien agar kondisi ekonomi dalam negeri tetap stabil dan terhindar dari inflasi tingkat tinggi.